Proposal Pembangunan Masjid NURUL HUDA Desa Jatiseeng Kecamatan Ciledug Kabupaten Cirebon Jawa Barat Indonesia

==>

Ditulis pada Pembangunan Fisik | 3 Komentar

Renovasi/Pembangunan Masjid NURULHUDA Desa Jatiseeng Kecamatan Ciledug Kabupaten Cirebon Jawa Barat Indonesia

Masjid merupakan sarana dan wahana pokok bagi pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM). Karena itu, upaya untuk memelihara dan memakmurkan Masjid perlu mendapat pembinaan dan perhatian yang sungguh-sungguh dari berbagai pihak, terutama Pemerintah.

Masjid NURULHUDA Desa Jatiseeng Kecamatan Ciledug, karena memiliki letak yang strategis di Jantung Kota Kecamatan yang ramai dilalui berbagai jenis kendaraan dengan tujuan dan keperluan yang berbeda, menjadi salah satu “Masjid Singgah” yang ada di Kabupaten Cirebon. Di era tahun 80 an, Masjid ini sempat menjadi kebanggaan bagi masyarakatnya.

Kenyataan yang ada saat ini adalah, disamping kondisi fisiknya yang sangat memprihatinkan karena dimakan usia, juga sarana dan prasarana yang ada sebagai penunjang peribadatan belum bisa memberikan pelayanan yang maksimal kepada para jamaah khususnya, dan tamu-tamu ALLAH pada umumnya.

Berangkat dari keprihatinan tersebut, kini Pemerintahan Desa Jatiseeng (Pemerintah Desa dan BPD) bersama dengan masyarakatnya bahu membahu berusaha untuk mewujudkan rencana Pembangunan Masjid NURULHUDA dan mengembalikan pamor menjadi Masjid Kebanggaan di Kecamatan Ciledug. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung : AYO MEMBANGUN….!

Salurkan Zakat, Infaq, dan Shadaqoh Saudara untuk Pembangunan Masjid NURULHUDA Desa Jatiseeng Kecamatan Ciledug Kabupaten Cirebon melalui Rekening :

  • Bank Syariah Mandiri (BSM) A/C : 0230148667 a.n. Masjid NURULHUDA.
  • Bank BNI A/C : 0201380222 a.n. Panitia Renovasi Masjid NURULHUDA.
  • Bank BRI A/C : 4131.01.001893.53.2 a.n. Masjid NURULHUDA
  • Bank Jabar Banten (BJB) A/C : 0008953546100 a.n. Masjid NURULHUDA
Ditulis pada Pembangunan Fisik | 7 Komentar

Warisan Leluhur : SYAHADAT CIREBON

Niat isun SYAHADAT CIREBON

Lir Gua Gunungjati

Cameti Astana Popok

Penggotekan Petaunan

Murub mancur cahyane ALLAH

Rat jagat urip isun

Ngadeg aken Cirebon

Kersane Pangeran

“LAA ILAHA ILLALLAH…. MUHAMMADUR RASULULLAH”

Centongbolong, malam Kliwon Rajab 1400 H.

(Hendaknya “SYAHADAT CIREBON” menjadi nafas motifasi kita <Rakyat dan Pejabat> sebagai Agent of Change bagi Kejayaan CIREBON. Saya ijazahkan amalan ini dengan mahar : Zakat, Infaq, dan Shadaqoh Saudara untuk pembangunan Masjid NURULHUDA). Mohon disalurkan melalui Rekening :

  • Bank Syariah Mandiri (BSM) A/C : 0230148667 a.n. Masjid NURULHUDA.
  • Bank BNI A/C : 0201380222 a.n. Panitia Renovasi Masjid NURULHUDA.
Ditulis pada Pembangunan Mental Spiritual | Tinggalkan Komentar

Renungan Ramadhan : AGAR HIDUP TERASA BERMAKNA

Oleh : H. DEDI SUPARDI, M.M.

Pemaknaan nilai hidup itu terasa lebih bermakna di bulan Ramadan ini. Sebab, di bulan ini setidaknya ada tiga makna yang perlu dihayati. Pertama menumbuhkan semangat kepedulian, kedua pengendalian diri, dan ketiga meningkatkan kadar spiritualitas.

DALAM sebuah riwayat diceritakan bahwa Nabi Musa a.s. pernah mengutus tiga pemuda untuk pergi ke gua. Ketika pemuda-pemuda itu sudah berada di dalam gua yang dimaksud, mereka tidak mendapatkan apa-apa, hanya tumpukan batu berserakan.

Pemuda pertama kemudian membawa batu-batu tersebut ke dalam kantong celana dan bajunya. Pemuda kedua hanya membawa batu ala kadarnya. Sementara itu, pemuda yang ketiga tidak membawa batu.

Ketika sudah kembali menghadap Nabi Musa a.s., ketiga pemuda tersebut memperlihatkan bawaannya. Kepada ketiga pemuda itu Nabi Musa a.s. berkata bahwa batu-batu yang berada di gua nilainya sangat tinggi. Mendapat penjelasan dari Nabi Musa a.s., ketiga pemuda itu mengaku menyesal dan ingin kembali lagi ke dalam gua untuk membawa batu sebanyak-banyaknya.

Bagi saya, riwayat tersebut merupakan tamsil kehidupan. Ia serupa perumpamaan tentang perjalanan hidup di dunia yang harus diisi dengan makna. Betapa malangnya orang yang tidak dapat memaknai kehidupan. Orang yang tidak bisa memaknai nilai dalam kehidupan sama dengan ketiga pemuda tersebut yang menyesal tidak membawa batu sebanyak-banyaknya.

Peringatan agar kita mengisi hidup dan kehidupan dengan kebaikan dan amal saleh sesungguhnya banyak diutarakan dalam Al-Qur’an dan Hadis. Sebut saja yang terdapat dalam Surat Al-Ashr yang menyebutkan, sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi, kecuali yang mengisinya dengan ibadah dan amal saleh. Andai saja manusia mengetahui balasan apa dari ibadah dan amal saleh yang telah dilakukannya, ia akan beribadah dan berbuat baik sepanjang hidupnya.

Berangkat dari kesadaran itulah kami sebagai orang yang dipercaya memimpin kabupaten Cirebon akan selalu berusaha menDEDIkasikan pembangunan untuk kebaikan dan kesejahteraan masyarakat. Bagaimanapun, kepentingan masyarakat dan daerah harus dikedepankan karena ini adalah ciri masyarakat yang lebih mengedepankan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi maupun golongan.

Selain itu, kita semua, baik sebagai pribadi maupun pemimpin di komunitas mana pun dituntut agar memberikan contoh bagaimana memaknai kehidupan. Karena hanya dengan inilah sesungguhnya kita sedang mengajari betapa hidup yang sangat sebentar ini lebih bermakna.

Bagi saya, jabatan itu amanah. Karena amanah, setiap jengkal kepemimpinannya harus dipertanggungjawabkan, baik kepada Allah maupun rakyat yang dipimpinnya. Agar amanah itu terasa bermakna, arah kebijakan umum (AKU) pembangunan Pemkab Cirebon akan selalu saya orientasikan kepada kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Pemaknaan nilai hidup itu terasa lebih bermakna di bulan Ramadan ini. Sebab, di bulan ini setidaknya ada tiga makna yang perlu dihayati. Pertama menumbuhkan semangat kepedulian, kedua pengendalian diri, dan ketiga meningkatkan kadar spiritualitas. Jika ketiga hal itu mampu dihayati dan diimplementasikan, insya Allah kita seperti yang disebut dalam Al-Qur’an, yakni sebagai orang yang bertakwa. ***

Penulis, Bupati Cirebon.

Pikiran Rakyat, No.155 Tahun XLV-Tahun Republik LXV-Selasa (Manis), 31 Agustus 2010.

(Siap Kang, laksanakan…!)

Ditulis pada Pembangunan Mental Spiritual | 1 Komentar

Renungan : SUFI

Suatu hari Rabi’ah menegur Saleh, seorang guru yang selalu mengajari murid-muridnya supaya mereka terus berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan. “Teruslah kalian mengetuk”, Ujar Saleh. “Lama kelamaan, insya ALLAH, Dia akan membuka pintunya.”

“Saleh,” ujar Rabi’ah, “mengapa kau selalu menggunakan kata akan? Pernahkan Tuhan menutup pintu-Nya?”

Wawasan spiritual semacam itu memang lazim di kalangan para Sufi seperti Rabiah. Bagi mereka pintu Tuhan senantiasa terbuka untuk segenap hambanya. Mereka selalu menekankan dengan berbagai cara dan ungkapan, bahwa Tuhan tak perlu dicari oleh manusia, sebab Dia senantiasa hadir.

Para Sufi memang kerap mencengangkan kita dengan ungkapan-ungkapan yang tak lazim dalam konteks hubungan manusia dan Tuhan. Nada ungkapan mereka kadang terdengar terlalu “berani” atau bahkan “gegabah”, sehingga sering disalah artikan oleh orang-orang yang terbiasa memegang ajaran-ajaran agama secara formal-teksual.

Coba simaklah ungkapan-ungkapan Bayazid Bistami yang dihimpun dalam buku kecil “Instruksi Sufi”, merupakan rekaman atas sebagian dari intisari ajaran mereka. Kita akan melihat betapa kaya dan mendalamnya renungan-renungan mereka, yang terkadang baru dapat dihayati setelah kitapun bersedia merenungkannya lebih mendalam lagi.

  • “Pada mulanya aku keliru dalam empat hal. Aku mencoba mengingat ALLAH, mengetahui-Nya, mencintai-Nya, dan mencari-Nya. Sesampai di tujuan, aku melihat ternyata Ia mengingatku sebelum aku mengingat-Nya, pengetahuan-Nya tentang diriku mengalahkan pengetahuanku tentang-Nya, cinta-Nya padaku sudah ada sebelum cintaku pada-Nya, dan Ia sudah mencariku sebelum aku mencari-Nya.”
  • Ketika aku merasa sudah sampai di Singgasana ALLAH, aku berkata padanya : “Wahai singgasana, kata orang ALLAH bersemayam di atasmu.” “Wahai Bayazid,” jawab singgasana itu, “yang kudengar Ia tinggal dalam hati orang-orang yang tawadhu.”

Semoga Renungan Sufi ini dapat ikut mendorong pengembangan potensi spiritual kita yang sesungguhnya sangat kaya. Aamiin…..

Instruksi Sufi 2003

Ditulis pada Sufi | Tinggalkan Komentar

Detik-detik Penting untuk Berbaik Sangka kepada ALLAH

Berbaik sangka kepada ALLAH swt, sejatinya menurut Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, tidak mengenal waktu, tempat, dan peristiwa. Kapanpun, di manapun, peristiwa apapun, mewajibkan seorang beriman untuk bersikap husnu dzan atau berbaik sangka kepada ALLAH swt. Itu karena sikap baik sangka kepada ALLAH swt memang mempunyai korelasi yang kuat dengan aqidah dan keimanan itu sendiri yang menegaskan bahwa ALLAH SWT Maha Bijaksana, Maha Kasih Sayang, dan Maha Kuasa. Sebab itu pula sebagian ulama menuliskan dalam kitabnya, bahwa husnu dzan kepada ALLAH swt memiliki ikatan kuat dengan komitmen tauhid. Bahkan dalam hadits riwayat Abu Daud, Rosulullah saw bersabda, “Husnu dzan min husni al ibadah.” Artinya sikap husnu dzan adalah bagian dari kebaikan beribadah kepada ALLAH swt.

Namun demikian, ada sejumlah peristiwa penting dalam hidup ini yang masuk kedalam katagori momentum rawan bagi sikap berbaik sangka kepada ALLAH swt. Pada saat-saat itu, tidak sedikit orang yang berhasil dihasut oleh syaitan dan terjerumus pada sikap buruk sangka kepada ALLAH swt.

Saat penting dan sangat menentukan nasib seseorang di akhirat ada pada “Detik-detik Menjelang Kematian” yakni detik-detik akhir kehidupannya di dunia. Fase perpindahan seorang manusia dari alam dunia yang fana, ke alam akhirat yang abadi. Fase perpindahan yang memisahkan antara kesempatan beramal sebanyak-banyaknya, dengan fase memetik dan merasakan hasil amal yang sudah dilakukan. Fase yang menandaskan apakah seseorang akan bahagia atau celaka. Itulah saat kritis bagi orang yang akan dicabut nyawanya. Kehidupan akan selesai dan akan ditentukan apakah seseorang mati dalam keadaan beriman atau kufur. Dan karenanya, syaitan-syaitan berlomba untuk membisikkan kalimat-kalimat yang bisa melencengkan seseorang dari arah pemikiran yang diridhoi ALLAH swt. Rasulullah saw mengingatkan kita tentang detik-detik berbahaya ini agar kita waspada akan gangguan syaitan.

Sehubungan dengan hal itu, Islam juga mengajarkan pentingnya melakukan talqin kalimat tauhid kepada orang yang akan meninggal atau berada dalam kondisi sakaratul maut. Malaikat akan datang membantu orang yang beriman untuk tetap teguh pada keimanannya, sementara iblis dan syaitan juga berkeliaran mencari peluang memalingkan hati, menghasut, serta memperdaya supaya orang itu tergelincir iman dan seterusnya menjadi calon pengisi neraka.

Begitulah, sampai-sampai Rasulullah pun ternyata tak lupa berwasiat kepada umatnya. Di saat detik-detik menjelang wafatnya Rasulullah saw, Jabir bin Abdillah ra menceritakan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Jangan sampai salah seorang dari kalian meninggal dalam kondisi tidak berhusnu dzan kepada ALLAH swt.”

Tarbawi Edisi 175 Tahun 2008

Ditulis pada Sufi | Tinggalkan Komentar

Empat Keutamaan Umat MUHAMMAD SAW

“Ada empat keutamaan yang diberikan kepada umat Muhammad yang tidak diberikan kepadaku.” kata Nabiyullah Adam Alaihis Salam.

“Pertama, taubatku diterima ALLAH SWT di Makkah tetapi taubat umat Muhammad diterima di tempat mana pun di muka bumi ini.”

“Kedua, ketika aku melakukan maksiat kepada ALLAH seketika pakaianku terlepas dari tubuhku, tetapi umat Muhammad ketika durhaka kepada ALLAH mereka tidak dilepaskan pakaiannya.”

“Ketiga, ketika aku melanggar larangan ALLAH aku dipisahkan dari istriku, tetapi umat Muhammad ketika durhaka kepada ALLAH tidak dipisahkan dari istrinya.”

“Dan keempat, aku melakukan dosa di surga lalu diusir ke dunia, tetapi umat Muhammad melakukan dosa di dunia tetapi ditempatkan di surga jika mereka mau bertaubat dari kesalahannya.”

(Tarbawi Edisi 175 Tahun 2008 : kintunan ti H. Unay Sunardi)

Ditulis pada Sufi | Tinggalkan Komentar

HASBUNALLAH…..

“Ya ALLAH…

Hartaku sedikit, hutangku banyak.

Sumber penghidupanku kering, dan mata pencaharianku terhenti-henti.

Aku mengadu kepada-Mu, Ya Rabb : HASBUNALLAH WA NI’MAL WAKIL.”

(Cukuplah ALLAH menjadi Penolong kami, dan ALLAH adalah sebaik-baik Pelindung.

La Tahzan : 36

Ditulis pada Sufi | Tinggalkan Komentar

Doa UTBAH : Sang Pendurhaka

“Ya ALLAH, Ya Tuhanku…

Jika Engkau menerima taubatku dan mengampuni dosa-dosaku, muliakanlah aku dengan pemahaman dan hapalan. Sehingga aku dapat memahami dan menghapal setiap ilmu dan Al-Qur’an yang aku dengar.”  1)*

“Ya ALLAH, Ya Tuhanku…

Muliakanlah aku dengan suara yang indah. Sehingga setiap orang yang mendengar bacaanku dapat bertambah kelembutan kalbunya, walaupun kalbu itu telah mengeras.” 2)*

Ya ALLAH, Ya Tuhanku…

Muliakanlah aku dengan rezeki yang halal, dan berilah aku rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” 3)*

Ziarah Ruhani : 38

Ditulis pada Sufi | Tinggalkan Komentar

Renungan : BERANI MENCOBA

Jam tua di dinding ruang tengah rumahku berdentang tiga kali. Waktu dini hari, membangunkankan aku dan keluargaku untuk melaksanakan kegiatan rutin di bulan suci Ramadhan. Alhamdulillah, hari ini hari ke-15 Aku dan keluargaku sebagai mayoritas muslim di negeri ini telah melaksanakan ibadah yang disyariatkan sebagai wujud pengabdian total kepada Tuhanku: “Aku datang Ya Rabb….!”

Jam tua, aku ingat tulisan tentang percakapan imajinasi lima tahun lalu antara Jam dan Pembuatnya. Mudah-mudahan bisa kita jadikan bahan renungan bahwa tugas kita bukan semata-mata untuk berhasil; tugas kita adalah untuk mencoba. Dengan mencoba itulah  insya ALLAH kita akan menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil.

Alkisah, seorang Pembuat Jam berkata kepada Jam yang sedang dibuatnya : “Hai Jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31.104.000 kali selama setahun?”

“Hah?” kata Jam terperanjat, “Mana sanggup saya?”

“Bagaimana kalau 2.592.000 kali selama sebulan?”

“Dua juta lima ratus Sembilan puluh dua ribu kali dalam sebulan, dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?” jawab Jam penuh keraguan.

“Bagaimana kalau 86.400 kali dalam sehari?”

“Waduh…, banyak sekali itu.” Tetap saja Jam ragu-ragu dengan kemampuannya.

“Bagaimana kalau 3.600 kali dalam satu jam?”

“Dalam satu jam harus berdetak tiga ribu enam ratus kali? “Kayanya ngga sanggup tuh?” jawab Jam.

Tukang Jam dengan penuh sesabaran kemudian bicara lagi kepada si Jam : “Kalau begitu sanggupkah kamu berdetak satu kali saja dalam setiap detik?”

“Nah, kalau segitu aku sanggup, sangat sanggup!” kata Jam dengan penuh antusias.

Maka setelah selesai dibuat, Jam itu berdetak satu kali dalam setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu. Sungguh luar biasa, karena ternyata selama satu tahun penuh, Dia telah berdetak tanpa henti . Dan itu berarti Dia telah berdetak sebanyak : TIGA PULUH SATU JUTA SERATUS EMPAT RIBU kali. Sungguh sangat luar biasa!

Renungan :

Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu. Bahkan yang semula kita anggap tidak mungkin untuk dilakukan sekali pun.

Jangan berkata “TIDAK” sebelum kita pernah mencobanya.

“Ayo SEMANGAT anak-anakku!”

(Jam itu kini masih menempel di dinding ruang tengah Rumahku. Setia menemaniku, meski umurnya jauh melebihi umurku. Siapa berminat?). Harmoni Edisi 005/06-12 Juli 2005

Ditulis pada Pembangunan Mental Spiritual | 1 Komentar